Minggu, 30 Oktober 2016

Manajemen Proyek & Resiko


·         Siklus hidup proyek

Proyek merupakan suatu pekerjaan sementara. Proyek memiliki tujuan yaitu menghasilkan sesuatu yang mendapatkan nilai plus atau menghasilkan suatu produk. Produk dalam pengembangannya memiliki tahap-tahap yang akan dilalui saat proses produksi dapat di artikan sebagai berikut.
1.    Riset dan pengembangan
Memulai penelitian atau pengembangan sasaran pasar, barang atau jasa apa yang memiliki potensi besar di dalam pasar.
2.    Pengenalan ke pasar
Memprediksi dan menilai tanggapan produk yang di pasarkan
3.    Tumbuh
Produk mulai di lirik sedikit demi sedikit
4.    Matang
Produk yang dihasilkan mendapatkan tingkat tertinggi
5.    Penurunan
Produk mengalami penurunan yang disebabkan factor x
Contoh: kurangnya inovasi
6.    Mati
Tahap terakhir dimana produk sudah tidak di inginkan pasar atau konsumen

Setiap produk yang dikeluarkan akan selalu mengalami siklus tersebut, dimana produk tersebut pernah menjadi best seller kemudian mati produksi karena kurangnya inovasi yang diberikan oleh suatu perusahaan atau pelaku pembuat produk tersebut. Secara garis besar proses atau tahapan proyek dibagi menjadi:

1.    Konsepsi
Secara umum pengenalan konsepsi dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
1.    Inisiasi
Inisiasi merupakan ide yang di dapatkan oleh pemilik usaha tentang proyek baru.
2.    Kelayakan
Kelayakan merupakan pengembangan masalah yang akan di hadapi produk bila keluar ke pasar dan mencari solusi untuk permasalahan tersebut.
2.    Perencanaan
Dalam perencanaan ini merupakan moment penentu spesifikasi produk apa yang akan di pasarkan. Dalam tahap ini perusahaan akan berdiskusi tentang anggaran biaya yang dikeluarkan, resiko-resiko yang akan di hadapi, serta solusi untuk menangani problem yang terjadi.

3.    Eksekusi
Beberapa tahap dalam sebuah eksekusi:
1.    Desain
Suatu perusahaan akan membuat produk terlihat menarik sesuai permintaan pasar.
2.    Pengadaan
Pengadaan disini merupakan fasilitas pendukung produksi harus tersedia.
3.    Produksi
Setelah fasilitas dan bahan-bahan yang di perlukan memenuhi persyaratan, maka dapat dilakukan produksi.
4.    Implementasi
Setelah proses produksi selesai maka dilanjutkan dengan memastikan bahwa produk yang akan di pasarkan telah memenuhi persyaratan.
4.    Operasi
Setelah produk melewati tahap eksekusi maka produk siap untuk dipasarkan. Perlu diketahui siklus yang terjadi tidak selalu melewati tahap-tahap yang telah disebutkan tadi.

·         Organisasi proyek

Sebuah organisasi jika sudah memiliki perkembangan yang cukup pesat, pasti organisasi tersebut akan terus memfokuskan diri untuk menambah skill atau kemampuan orang-orang yang ada didalamnya. Secara umum penyusunan struktur organisasi dibagi menjadi:
1.    Berdasarkan produk
Suatu organisasi atau perusahaan jika memiliki beberapa produk maka akan membentuk tim atau bagian berdasarkan produk yang di pasarkan.
2.    Berdasarkan lokasi
Bila suatu perusahaan sudah jauh berkembang pesat dan memiliki modal yang cukup, perusahaan akan membagi bagian-bagian berbeda setiap produk yang mereka akan pasarkan.
Contoh: PT.Asmo Indonesia yang ada di cikarang hanya memproduksi baju,
   sedangkan PT Asmo Indonesia yang ada di tangerang memproduksi tas
3.    Berdasarkan proses
Setiap perusahaan pasti akan membagi bagian sesuai proses produksi yang berfungsi untuk mempermudah pekerjaan pada masing-masing bagian.
4.    Berdasarkan pelanggan
Perusahaan biasanya memiliki target pelanggan, yaitu misalkan membagi pelanggan berdasarkan gender, umur.

5.    Berdasarkan fungsi
Suatu perusahaan membagi atau memisahkan bagian penting sesuai fungsinya.
Contoh: bagian produksi, bagian keuangan, bagian design, dll.

A.   Proyek bagian dari organisasi fungsional
Dalam suatu perusahaan, perusahaan membagi bagian berdasarkan fungsi pada masing-masing bagian. Contoh bagian produksi, bagian pemasaran, bagian keuangan.
Dalam pembagian sesuai fungsi ini memiliki kelebihan, yaitu;
1.    Proses dalam pengerjaan atau pembuatan produk sangat cepat karena mempunyai fleksibilitas tinggi.
2.    Mempunyai ahli-ahli di bidangnya.
3.    Proyek dapat menjadi acuan untuk meningkatkan prestasi yang akan mempengaruhi perkembangan produk.
Selain memiliki kelebihan, bagian ini juga memiliki beberapa kekurangan, yaitu;
1.    Lemahnya motivasi pegawai yang ditugaskan dalam proyek tersebut.
2.    Ketua divisi atau bagian tidak memberikan pendekatan secara menyeluruh kepada pegawai yang bekerja tiap bagian.
3.    Tidak adanya tanggung jawab penuh untuk menangani proyek.

B.   Organisasi proyek murni
Organisasi proyek murni merupakan organisasi proyek yang terpisah dari organisasi tapi memiliki ikatan dengan organisasi induk yang ada dalam perusahaan tersebut.
Kelebihan struktur ini adalah:
1.    Manajer proyek atau ketua proyek(bagian) memiliki kuasa penuh untuk mengelola proyek tanpa melapor kepada atasannya.
2.    Bisa memanfaatkan ahli yang sama dalam satu bidang untuk menjalin kerja sama.
3.    Semua anggota bertanggung jawab terhadap ketua proyek.
Kekurangan struktur ini adalah:
1.    Meningkatnya biaya produksi
2.    Sering terjadi ketidakonsistenan prosedur
3.    Penyalahgunaan wewenang manajer proyek untuk menumpuk sumber daya

C.   Organisasi matriks
Merupakan solusi antara kedua organisasi sebelumnya. Bisa dikatakan merupakan hasil penggabungan dari dua organisasi sebelumnya, tapi tidak menutup kemungkinan memiliki kekurangan.
Kelebihan bentuk organisasi matriks adalah:
1.    Masalah yang muncul tidak terlalu berat.
2.    Manajer proyek bertanggung jawab penuh untuk mengelola proyek
3.    Memiliki konsistensi yang tinggi
Sedangkan, kekurangannya adalah:
1.    Ketidakseimbangan kekuasaan antara manajer fungsional dan proyek

·         Tim proyek

Tim proyek merupakan tim yang terdiri anggota yang ada di dalam organisasi proyek dan dibagi menjadi beberapa bagian. Setiap tim memiliki fungsi masing-masing.

A.   Manajer proyek
Manajer proyek berfungsi untuk mengintegrasikan kegiatan untuk tujuan tertentu. Ia harus berusaha untuk melakukan mengadaan dana, fasilitas, dll agar proyek dapat berjalan dengan semestinya.
Manajer proyek memiliki tanggung jawab yang cukup besar diantaranya;
1.    Menyelesaikan konflik antara anggota tim
2.    Memantau proyek
3.    Merencanakan kegiatan dan tugas akhir termasuk penjadwalan dana penganggaran

B.   Kompetensi dan orientasi manajer proyek
Seorang manajer proyek harus memiliki wawasan dan latar belakang yang luas, selain itu harus mudah berkomunikasi dan mampu menyampaikan pendapat yang akan menghasilkan kerja sama antara anggota tim

C.   Anggota tim proyek
Dalam anggota tim harus memiliki beberapa bagian yaitu;
1.    Contract Administrator
Bertugas sebagai pembuat proposal, negosiasi kontak.
2.    Project Controller
Bertugas untuk bekerja sama dengan manajer proyek untuk menentukan orang yang bertanggung jawab dalam menjalankan tugas
3.    Project Accountant
Membantu pekerjaan akuntan dan menyiapkan rincian biaya yang keluar

4.    Costumer Liason
Bertugas sebagai mereview proyek yang sedang dalam pembangunan dan bertangung jawab menjaga hubungan baik antara tim
5.    Production Coordinator
Mengkoordinasikan aspek produksi, dapat berupa memantau pengadaan dan perakitan komponen dan ongkos kirim produksi juga termasuk tanggung jawabnya.
6.    Manajer Lapangan
Mengawasi hasil akhir proyek di lapangan
7.    Quality Assurance Supervisor
Membuat prosedur pelaksanaan demi kualitas yang di butuhkan.

D.   Peran lain di luar tim proyek

Manajer program
Perusahaan besar yang berkembang jika mempunyai proyek yang cukup besar maka harus di tangani oleh orang yang bertanggung jawab penuh untuk mengawasi hasil akhir proyek tersebut.
Tugas manajer program adalah:
1.    Mengevaluasi kegiatan dari seluruh manajer proyek
2.    Bekerja sama untuk menyelesaikan konflik yang terjadi
3.    Memastikan bahwa perubahan pada proyek tidak diluar batas estimasi biaya dan waktu yang telah di tentukan

Rabu, 05 Oktober 2016

Review Jurnal: Perangkat Lunak(JIT) Just In Time untuk Memprediksi Proyek Perangkat Lunak



PENDAHULUAN

Industri perangkat lunak telah berkembang semakin pesat di Indonesia, baik dari segi teknologi informasi dan komunikasi. Akibat permasalahan tersebut mendorong pengembang atau dunia industri untuk mengambil resiko lebih besar. 
      Perangkat Lunak JIT (Just In Time) yaitu melakukan perencanaan untuk menilai dan mengevaluasi produk yang dihasilkan di awal proyek. Terdapat 2 (dua) alasan penelitian ini menggunakan JIT sebagai pendekatan dalam mengelola resiko. Pertama, metode ini yang paling sukses diterapkan pada seluruh aktivitas proyek industri. Kedua, perangkat lunak JIT dapat mengenali seluruh ruang lingkup resiko proyek perangkat lunak, sehingga penilaian dan evaluasi resiko yang dilakukan dapat menjamin kehandalan dari perangkat lunak yang dihasilkan.

METODE PENELITIAN

              Metode yang digunakan dalam penelitian adalah menggunakan kuisioner. Kuisioner matrik resiko yang digunakan pada penelitian, terdiri beberapa pertanyaan yang berfungsi untuk evaluasi ruang lingkup perangkat lunak JIT. Sedangkan analis dan programmer merupakan representatif responden dari informasi yang dikumpulkan.
                Secara umum bobot yang dibangkitkan untuk menjawab pertanyaan pada matrik resiko adalah nilai probabilitas antara 0 sampai 1 seperti yang terlihat pada tabel 2. 


PEMBAHASAN

RUANG LINGKUP  PERANGKAT LUNAK JIT (JUST IN TIME) 
            Ruang lingkup perangkat lunak JIT manajemen resiko terdiri dari elemen resiko, aktivitas resiko, faktor resiko, matrik resiko dan metodelogi life cycle.

1. Element  Resiko 
           Terdapat 3 elemen dari resiko yang digunakan. yaitu teknologi, biaya dan penjadualan. Elemen teknologi berhubungan dengan kinerja perangkat lunak, yaitu kehandalan, kualitas, fungsi, pemeliharaan dan kegunaan kembali. Elemen biaya berhubungan dengan biaya perangkat lunak selama pembangunan perangkat lunak seperti variable cost, fix  cost dan budget. Sedangkan elemen penjadualan berhubungan dengan jadual proyek selama membangun perangkat lunak, seperti jadual realisasi, jadual pertemuan dengan pelanggan dan anggota pengembang dan jadual perubahan waktu proyek.

2. Aktivitas Resiko
             Aktivitas resiko merupakan evaluasi resiko berdasarkan pandangan dari operasional, strategi, teknologi, bisnis, industri, dan para praktisi. Terdapat 6 (enam) aktivitas yang dilakukan dalam mengevaluasi manajemen resiko perangkat lunak yaitu : 
  1. Identifikasi resiko yaitu pengumpulan informasi mengenai proyek perangkat lunak dan                        mengklasifikasikan informasi tersebut untuk menentukan resiko yang paling potensial dari suatu         proyek.
  2. Strategi dan perencanaan resiko yaitu mengembangkan alternatif-alternatif resiko yang akan               muncul selama pembangunan perangkat lunak.
  3. Penilaian resiko adalah memutuskan dampak resiko yang paling potensial melalui suatu                       penilaian. 
  4. Pengurangan/penghindaran resiko yaitu aktivitas yang dilakukan dalam meminimalkan atau                 menghindari efek resiko.
  5. Membuat laporan untuk mendokumentasikan pengelolaan resiko dari proyek perangkat lunak,             termasuk melakukan perbandingan status resiko dengan resiko  proyek yang pernah dikerjakan.
  6. Prediksi resiko yaitu melakukan prediksi tentang perkembangan resiko dari proyek dengan                 menggunakan interasi data dan pengetahuan. 

3. Faktor Resiko Perangkat Lunak
              Menurut Mc Call dan Boehm terdapat 10 faktor resiko perangkat lunak berdasarkan tabel 1.

4. Matrik Resiko
              Menurut Mc Call dan Boehm matrik resiko digunakan untuk menilai faktor resiko dalam perangkat lunak yang berfungsi untuk mendapatkan perangkat lunak yang berkualitas.

5. Metodologi Just In Time
              Pada metodologi Just In Time, aktivitas evaluasi resiko terdiri dari : identifikasi, strategi dan perencanaan, penilaian, pengurangan/penghindaran, laporan dan prediksi. Kemudian dijabarkan pada setiap tahapan (phase) model proses life cycle. Tidak semua pertanyaan diterapkan pada setiap phase life cycle. Hal ini disebabkan setiap pertanyaan memiliki karaktersitik dalam menilai faktor resiko yang ada pada setiap phase life cycle

6. Desain Model SERIM
               The Software Engineering Risk Model (SERIM)  berfungsi sebagai pendekatan untuk menghitung resiko perangkat lunak. Pendekatan berdasarkan pengalaman dan analogi kejadian dan SERIM dihitung berdasarkan pertanyaan matrik resiko perangkat lunak.

KESIMPULAN

               Biaya dan usaha dalam aktivitas dalam manajemen resiko harus lebih kecil dibanding keuntungan akan diperoleh perusahaan jika pengelolaan resiko proyek berhasil. Untuk mancapai  keberhasilan tersebut, efisiensi manajemen resiko bisa meningkat dengan menggunakan alat bantu yang berbasis-komputer. 
               Program aplikasi untuk mengenali resiko pada proyek perangkat lunak, seperti Risk Guide, Riskit maupun ProRisk. Perangkat lunak JIT merupakan model yang digunakan untuk mengelola resiko dalam proyek perangkat lunak dengan melihat resiko dari berbagai prespektif seperti: model proses, elemen resiko, faktor resiko dan aktivitas  resiko.
               Penerapan perangkat lunak JIT dapat mengenali hampir seluruh resiko proyek dan memberikan pengetahuan kepada pengembang perangkat lunak dalam mengelola, mengukur, menilai dan memprediksi resiko.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Boehm, B. W. A Spiral Model of Software Development and Enhancement, Computer. May, 61-72, 1988.  

[2] Boehm, B. W. Software Risk Management: Principles and Practices. IEEE Software, 8(1):32-41, 1991.  

[3] Crossman, Tevron D. Software Quality in the fourth-Generation Technique Environment. Data Processing  25, no 10, 2000 

[4] Grechenig, Thomas and James Zschernitz. Making Code Metrics Useful for Practioners. Proceedings of the third software Engineering Research Forum, Orlando, 1993 

[5] Lawler, RW. System Perspective on Software Quality. Proceedings of the fifth International Computer and Applications Conference, 2001 

[6] McClelland, S., Organizational Needs Assessments : Design, Facilitation and Analysis, Quorum Books, 1995     [7] Karolak, D. 1998. Software Engineering Risk Management. IEEE Computer Society Press, Los Alamitos, CA, USA, 1998.  

[8] Mc Call,  J.A.P.K Richards and G.F. Walter. Factors in Software Quality. General Electric Command and Inforation System Tech. Report 77DIS02, Sunnyvale, 1977 

[9] Murine, Gerald E. Applying Software Quality Metric. Proceedings of the ASQC Congress transactions, Boston, 1983 

[10] Strategy of market software.2007. http://www.idc.com. diakses tanggal 12-10-2008 

Sabtu, 18 Juni 2016

Aplikasi dan Cara Kerja Motor Listrik dalam Kehidupan Sehari-hari.


Motor Listrik

   Motor Listrik adalah alat yang berfungsi sebaliknya, mengubah energi mekanik menjadi energi listrik disebut generator atau dinamo.

Prinsip Kerja Motor Listrik :


1. Pada motor listrik tenaga listrik diubah menjadi tenaga mekanik.

2. Perubahan ini dilakukan dengan mengubah tenaga listrik menjadi magnet yang disebut       sebagai elektro magnet.

3. Sebagaimana kita ketahui bahwa : kutub-kutub dari magnet yang senama akan tolak-         menolak dan kutub-kutub tidak senama, tarik-menarik.

Pengaplikasian Motor Listrik pada Mixer

Mixer merupakan salah satu jenis ARTL yang masuk dalam klasifikasi ARTL mekanis  yang fungsinya sebagai pengaduk adonan Kue dan semacamnya. Mixer sering digunakan untuk mengaduk adonan kue yang menggunakan campuran telur, tepung, dan larutan tertentu sehingga ibu rumah tangga sering mengistilahkannya sebagai pengaduk telur. Tungkai pengaduknya digerakkan oleh sebuah motor listrik melalui kopel roda-roda gigi. Variasi kecepatan putar dapat diatur dengan sebuah saklar pilih yang diletakkan sedmikian rupa hingga mudah dijangkau oleh ibu jari atau jari telunjuk yang sedang menggenggam gagang mixer.


Pemeriksaan komponen yang ada pada bagian dalam cukup melepaskan tiga sekrup pengikat badan mixer. Dua sekrup di bagian depan, satu pada bagian belakang. Tungkai pengaduk yang terdiri atas dua buah dapat dilepaskan dengan menekan tombol pelepas kait tungkai. Tombol ini juga diletakkan sedemikian rupa sehingga mudah dijangkau dan berdampingan dengan saklar pemilih kecepatan. Untuk mempermudah pengenalan komponen mixer tersebut.

Gambar Komponen dari Mixer

Cara Kerja Mixer

Salah satu komponen dasar dari rangkaian mixer adalah dioda. 

Sifatnya yang hanya mengalirkan arus ke satu arah membuat dioda dapat dilihat sebagai sebuah switch yang akan ON pada saat tegangan input lebih tinggi dari outputnya, dan akan OFF bila sebaliknya. Ketika tegangan sinusoidal dialirkan ke dioda maka hanya pada saat siklus positif saja tegangan akan dilewatkan sedangkan pada saat siklus negatif tidak. Dengan demikian tegangan yang semula sinusoidal tersebut, setelah melalui dioda, akan menjadi tegangan searah dan berbentuk setengah gelombang yang terputus-putus. Ini berarti tegangan sinusoidal tersebut telah “dirusak” oleh dioda. Menurut teorema Deret Fourier, sinyal periodik yang “rusak” ini (maksudnya bukan sinusoidal murni) merupakan jumlah dari sinyal-sinyal harmonik yang tak berhingga jumlahnya. 


Bila dua buah sinyal dimasukkan ke dalam dioda maka bisa dipastikan kedua sinyal akan “dirusak” sehingga akan menghasilkan produk harmonik dan produk intermodulasi antar kedua sinyal. Oleh karena itu sifat dioda yang “merusak” sinyal hingga menghasilkan produk-produk harmonik dan intermodulasi ini dikatakan bersifat non-linier, dimana sifat non linier ini justru sangat dibutuhkan dalam rangkaian mixer.


Sifat non-linier dioda juga bisa dilihat dari kurva karakteristiknya. Kurva arus terhadap tegangan pada dioda tidaklah berupa garis lurus, melainkan melengkung. Dalam matematika, garis yang melengkung berarti tidak linier. Pada lengkungan tertentu, ketidak linieran itu bisa bersifat kuadratis (orde dua). Ini berarti di dalam karakteristik dioda terdapat ketidaklinieran orde dua yang mana hal ini sangat dibutuhkan untuk menghasilkan komponen frekuensi jumlah dan selisih. Sifat non-linier seperti inilah yang membuat dioda sangat ideal untuk dijadikan sebagai komponen utama dalam rangkaian mixer, dimana mixer merupakan alat vital dalam proses pergeseran frekuensi.

 

Contoh rangkaian mixer berbasis dioda diperlihatkan pada gambar

a) Rangkaian balance modulator sebagai mixer pasif
b) Sebuah model rangkaian mixer aktif.


Mixer yang menggunakan dioda sebagi komponen non-liniernya tidak membutuhkan catu daya dalam operasinya, sehingga mixer jenis ini sering disebut sebagai mixer pasif. Sebaliknya mixer yang menggunakan transistor sebagai komponen non-liniernya disebut mixer aktif, mengingat mixer jenis ini membutuhkan catu daya dalam operasinya.

Di dalam mixer aktif sinyal osilator yang masuk akan diperkuat oleh amplifier, lalu dilewatkan ke dalam rangkaian hard limitter agar bentuk sinyal yang semula sinusoidal menjadi hampir persegi. Sinyal persegi ini dimaksudkan untuk mengaktifkan dan mematikan transistor seperti layaknya switch On dan OFF pada dioda. Dalam beberapa hal, sifat transistor memang mirip dengan dioda. Sinyal IF kemudian dijumlahkan melalui Emitor TR1 dan produk non-linier yang dihasilkan dikeluarkan melalui Emitor penguat arus TR2 (gambar 1.19.3b).

Pada mixer aktif level sinyal osilator yang dibutuhkan relatif kecil, sekitar 200 sampai 280 mVpp, karena di dalam mixer aktif sudah disediakan rangkaian penguat sinyal. Sebaliknya, mixer pasif membutuhkan level osilator yang relatif lebih besar (sekitar 1400 sampai 2000 mVpp) agar fungsi dioda sebagai switch dapat bekerja dengan sempurna. Beberapa contoh mixer pasif diantaranya adalah MC1502, M53T dan TUF-5, sedangkan contoh mixer aktif diantaranya adalah IC tipe AD8343 dan U2795B.

Sumber: 2wijaya

Jumat, 16 Oktober 2015

Tugas Softskill II: Penulisan
Pengaruh Sampah terhadap Lingkungan
BAB I
PENDAHULUAN

1.2  Latar Belakang
            Sampah adalah suatu barang yang sudah tidak terpakai lagi dan tidak di gunakan lagi. Apabila tidak di tangani dengan benar akan menimbulkan bau yang tidak sedap, sumber berbagai penyakit, penyumbatan saluran air dan juga dapat menyebabkan banjir. Seiring berjalannya waktu maka di temukanlah cara untuk menanggulangi sampah. Kalau dulu sampah hanya di biarkan sampai menimbulkan bau tak sedap, sekarang sampah di manfaarkan menjadi sumber penghasilan. Misalnya, sampah organik yaitu : sampah sisa-sisa makanan di jadikan kompos, pupuk dll. Sedangkan sampah anorganik diantaranya sampah plastik di jadikan kerajinan tangan atau di daur ulang.

1.3 Rumusan Masalah
     Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah karya tulis ilmiah ini adalah “ Bagaimana pengaruh sampah terhadap lingkungan?”.

1.4 Tujuan Penulisan
·         -Mengetahui jenis dan sifat sampah
·         -Mengetahui manfaat pengolahan sampah
·         -Mengetahui pengaruh sampah terhadap lingkungan

1.5  Manfaat Penulisan

ü  Masyarakat sadar akan kebersihan lingkungan.
ü  Banyak kreativitas yang di hasilkan leh masyarakat
ü  Lingkungan menjadi bersih dan nyaman


BAB II
JENIS – JENIS SAMPAH

         Sampah sangatlah lekat dengan kita, dimana pun kita berada pastilah kita menemui sampah. Berdasarkan bahan dasar dan kandungan yang terdapat di dalamnya sampah di bagi menjadi tiga:

2.1. Sampah Organik
        Sampah organik adalah sampah yang dapat diurai, yang mudah membusuk. Sampah ini termasuk sampah basah yang dapat diolah menjadi kompos.
Contoh sampah organik adalah :
·         -Sisa makanan
·         -Sayuran
·         -Dedaunan dan sebagainya

2.2. Sampah Anorganik
         Sampah anorganik adalah sampah yang tidak terurai, yang tidak dapat membusuk. Sampah ini termasuk sampah kering yang dapat di jadikan sampah komersial atau sampah yang laku di jual kembali untuk diolah kembali menjadi barang yang bisa di gunakan lagi.
Contoh sampah anorganik adalah :
·         -Plastik
·         -Kertas
·         -Gelas atau kaca
·         -Botol

2.3. Sampah Berbahaya
         Sampah Berbahaya adalah sampah yang beracun penyabab infeksi, mempunyai sifat korosif. Korosif adalah sifat suatu subtansi yang dapat menyebabkan benda lain hancur atau memeroleh dampak negatif. Sampah ini biasanya berasal dari limbah pabrik yang merusak sungai setempat karena memiliki racun. Sampah ini sangat memengaruhi linkungan dan mengakibatkan kerusakan yang merugikan bagi kehidupan makhluk hidup.
Contoh sampah berbahaya adalah :
·         -Logam                                                           
·         -Pestisida
·         -Zat kimia
·         -Sisa perindustrian



BAB III
CARA PENGOLAHAN SAMPAH

Pengelolaan sampah adalah pengumpulan, pengangkutan, pemrosesan, pendaurulangan dari material sampah. Hal ini biasanya dihasilkan dari kegiatan manusia, dan dikelola untuk mengurangi dampaknya terhadap kesehatan, lingkungan. Pengelolaan ini melibatkan zat padat, cair, gas, atau radioaktif. Praktek pengelolaan sampah berbeda  antara daerah perkotaan dengan daerah pedesaan, berbeda juga  perumahan dan industri. sampah yg tidak berbahaya dari pemukiman dan di daerah perkotaan biasanya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah, sedangkan untuk sampah dari area industri biasanya ditangani oleh perusahaan pengolah sampah. Metode ini  berbeda-beda tergantung banyak hal, diantaranya tipe zat sampah, tanah yg digunakan untuk mengolah dan ketersediaan area. Dan caranya dibagi rata dengan jenisnya, dari sampah organik, sampah anorganik, dan sampah berbahaya.


3.1 Pengolahan Sampah Organik
Sampah organik tergolong sampah yang gampang busuk.seperti sisa makanan, dedaunan dan masih banyak lagi. Sebenarnya sampah jenis ini masih bisa kita manfaatkan lagi. Asalkan kita tahu kegunaan dan juga cara mengolahnya. Jenis sampah organik bisa kita manfaatkan lagi menjadi pupuk kompos. Karena sampah organik berasal dari makluk hidup. Pengomposan yaitu zat tanaman, sisa makanan atau kertas, bisa diolah dengan menggunakan proses biologis. Contoh dari pengelolaan sampah menggunakan teknik ini adalah Green Bin Program (program tong hijau) yaitu seluruh  sampah organik  dikumpulkan di kantong khusus untuk di komposkan.


3.2 Pengolahan Sampah Anorganik
Sampah anorganik sebaiknya kita daur ulang kembali. Jangan membuangnya secara sembarangan, karena jenis sampah ini tidak mudah untuk hancur. Kita memerlukan kreatifitas tinggi untuk mengubah sampah tersebut menjadi suatu barang yang mempunyai nilai beda. Proses pengambilan barang yang masih memiliki nilai dari sampah untuk digunakan kembali disebut sebagai daur ulang. Ada beberapa cara daur ulang, pertama adalah mengambil bahan sampahnya untuk diproses lagi. Kedua mengumpulkan dan menggunakan kembali sampah yang dibuang.Sampah yang biasa dikumpulkan adalah kaleng minum aluminum, kaleng baja makanan atau minuman, kertas, koran, majalah, dan kardus. Daur ulang dari produk yang komplek seperti komputer atau mobil lebih susah, karena bagiannya harus diurai dan dikelompokan menurut jenis bahannya.



 3.3 Sampah Berbahaya
Tahap penanganan sampah B3 (bahan berbahaya dan beracun) dari rumah tangga dimulai dari pemilahan. Sampah B3 harus dipilah dan dipisahkan dari sampah organik dan anorganik. Kemudian sampah B3 yang sudah terkumpul dimasukkan dalam wadah yang aman. Pastikan  menggunakan sarung tangan saat melakukannya. Selanjutnya,  jika penganangan sampah B3 dilakukan secara terkoordinasi dengan warga masyarakat di perumahan sekitar, maka tahap selanjutnya adalah dengan pewadahan dan pengumpulan besar, pengangkutan dan penyimpanan sementara. Semuanya harus dilakukan dengan metode pengelolaan sampah B3 yang sesuai dengan aturan pemerintah dan anjuran ahli. Dalam menyikapi sampah B3 Sebagai warga juga konsumen perlu memiliki peran yang baik. Usahakan mengurangi konsumsi produk yang mengandung bahan berbahaya beracun, dan lebih memilih produk ramah lingkungan. Kita juga bisa memperpanjang umur dengan memakai suatu produk dengan pemakaian yang bijak. Misalnya dengan merawat baterai alat elektronik agar awet atau menghemat penggunaan bahan pembersih. Perlu diketahui juga bahwa produsen memegang peran yang sama pentingnya. Produsen wajib mencantumkan material yang dikategorikan sebagai kandungan berbahaya ataupun beracun pada semua produknya. Tujuannya agar konsumen tahu cara penanganannya. Produsen juga memiliki kewajiban untuk melakukan upaya-upaya yang dirasa perlu untuk mengolah produk tersebut setelah digunakan. Dan jika terjadi pencemaran lingkunga, produsen wajib bertanggung jawab untuk memulihkannya. Dengan mengetahui apa itu sampah B3 dan peran apa yang bisa kita lakukan untuk menanggulanginya, semoga keluarga dan lingkungan kita tetap sehat dan aman untuk selamanya.


BAB IV
PENUTUP

4.1  Simpulan
Sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah merupakan konsep buatan manusia, dalam proses-proses alam tidak ada sampah, yang ada hanya produk-produk yang tak bergerak.
Sampah dapat berada pada setiap fase materi: padat, cair, atau gas. Ketika dilepaskan dalam dua fase yang disebutkan terakhir, terutama gas, sampah dapat dikatakan sebagai emisi. Emisi biasa dikaitkan dengan polusi.

4.2  Saran
Cara pengendalian sampah yang paling sederhana adalah dengan menumbuhkan kesadaran dari dalam diri untuk tidak merusak lingkungan dengan sampah. Selain itu diperlukan juga kontrol sosial budaya masyarakat untuk lebih menghargai lingkungan, Peraturan yang tegas dari pemerintah juga sangat diharapkan karena jika tidak maka para perusak lingkungan akan terus merusak sumber daya alam ini.

Sebaiknya setiap rumah tangga melakukan pembuangan sampah dengan cara memilahkan sampah sesuai jenisnya. Agar pihak TPA(tempat pembuangan akhir)   mudah untuk dijadikan sesuai kebutuhan.